Gawai (gadget) Uncategorized

Misteri 4G Lte Di Ponsel Huawei

August 29, 2019

Dua hari lalu, penulis alias HSW iseng berkunjung ke akun Facebook Huawei Mobile Indonesia. Satu balasan yang dikirimkan admin akun itu mengingatkan HSW dengan satu pertanyaan besar yang usang menggelayut di kepala. Ada apakah dengan Huawei? Produsen ponsel berkelas global asal Tiongkok itu seolah bermain teka-teki dengan fitur 4G LTE di ponselnya.

Cerita bermula pada 6 Desember 2015. Saat itu Huawei meluncurkan dua ponsel berakal terbarunya, Mate S dan G8, di Hotel Pullman Central Park Jakarta. Huawei menyatakan dua ponsel itu belum mendukung layanan 4G LTE. Keduanya masih berkutat di teknologi 3G.

 penulis alias HSW iseng berkunjung ke akun Facebook  Misteri 4G LTE di Ponsel Huawei

“Kami sedang berusaha mengejar tingkat kandungan lokal yang mulai diterapkan pemerintah. Huawei sudah berhubungan dengan manufaktur lokal yang bisa menciptakan produk 4G sesuai standar yang ditetapkan perusahaan kami,” kata Johnson Ma, South Pacific GTM Director Huawei, sebagaimana dituliskan oleh Techno.id.

Mate S yang diperkenalkan di program itu dibanderol Rp 9,399 juta. Mudahnya, bulatkan saja menjadi Rp 9,4 juta. Seperti yang dipaparkan petinggi Huawei dan tercetak di brosur Mate S, ponsel tersebut maksimal hanya mendukung layanan 3G.

 penulis alias HSW iseng berkunjung ke akun Facebook  Misteri 4G LTE di Ponsel Huawei

Harga setinggi itu untuk ukuran kini tergolong “ajaib” untuk sebuah ponsel 3G. Apalagi, popularitas merek Huawei di Indonesia masih relatif belum tinggi. Biarpun telah berkelas global, merek Huawei masih diidentikkan dengan ponsel asal Tiongkok.

Keanehan berikutnya, Mate S yang dijual di luar Indonesia ternyata telah mendukung layanan 4G LTE. Harian Kompas pun sempat mempertanyakan hal itu lewat sebuah artikel yang dimuat di edisi 8 Desember 2015. Judulnya, seingat HSW, “Tanda Tanya Huawei Mate S”. HSW membacanya ketika terbang dari Surabaya ke Jakarta menggunakan Garuda Indonesia.

Karena HSW belum pernah menjumpai penjual Mate S bergaransi resmi di pasar offline, dongeng berakhir hingga di sini dulu. Sekarang saatnya beralih ke Huawei G8. Ponsel itu dibanderol Rp 5,4 juta–tepatnya Rp 5,399 juta sih–dan dinyatakan belum 4G LTE. Berikut posting di akun Facebook Huawei Mobile Indonesia yang menciptakan HSW tergelitik menciptakan goresan pena ini.

 penulis alias HSW iseng berkunjung ke akun Facebook  Misteri 4G LTE di Ponsel Huawei

Di sentra penjualan ponsel sudah cukup banyak toko yang mengatakan G8. Brosur ponsel itu juga tersedia. Di halaman spesifikasi sama sekali tidak ada paparan ihwal jaringan yang kompatibel dengan ponsel tersebut.

 penulis alias HSW iseng berkunjung ke akun Facebook  Misteri 4G LTE di Ponsel Huawei

Pihak Huawei jelas-jelas menyatakan G8 belum mendukung layanan 4G LTE. Uniknya, mengacu kepada survei yang dilakukan HSW di banyak sekali toko, semua penjual menyatakan ponsel itu kompatibel dengan 4G LTE. Ya, semua penjual. Sebagian penjual bahkan berani menciptakan perjanjian tak tertulis transaksi boleh dibatalkan sepihak bila G8 gagal memperoleh sinyal 4G. G8 yang akal-akalan akan HSW beli yaitu G8 gres dan bergaransi resmi.

***

HSW tidak mengetahui detail persyaratan dan mekanisme pengurusan akta SDPPI atau yang semenjak dulu hingga kini lebih sering disebut akta Postel. Rangkaian pertanyaan yang ketika ini menggelayut di benak HSW:

Apakah pemohon sertifikasi ponsel harus mendeklarasikan produk yang diajukan sudah atau belum mendukung layanan 4G LTE?Bila pemohon menyatakan ponsel yang diajukan belum mendukung layanan 4G LTE, tetapi realitanya ponsel itu sudah kompatibel dengan layanan 4G LTE, adakah hukuman yang akan diberikan?Mirip dengan poin nomor 2, tetapi aktivasi harus dilakukan dengan cara-cara tertentu, entah dengan menekan suatu kombinasi angka atau menggunakan alat bantu laptop/PC.

Menurut HSW, peraturan sertifikasi idealnya terus diperbarui. Bukan untuk mempersulit, melainkan mengikuti perkembangan terkini dan mengatakan kesetaraan perlakuan. Pengawasan mutlak dilakukan lebih ketat biar perkara akta jadi-jadian ala Zuk Z1 tidak terulang lagi. Itu hanyalah puncak dari sebuah gunung es.

Sedikit membuatkan dongeng tambahan, Samsung Galaxy Note 4 yang dijual resmi di Indonesia disebutkan belum mendukung layanan 4G LTE. Saat ponsel gres dikeluarkan dari kardus, Galaxy Note 4 memang tak sanggup digunakan untuk menikmati layanan 4G LTE. Namun, dengan cara-cara tertentu yang membutuhkan kemampuan teknis cukup tinggi, fitur 4G LTE di ponsel itu sanggup diaktifkan.

Contoh lain, tidak semua pembeli Huawei Y6 bisa pribadi menggunakan ponsel itu untuk menikmati layanan 4G LTE. Ada ritual tertentu, biasanya penjual bersedia membantu melakukannya, yang harus dilakukan lebih dulu.

Kesimpulan dari goresan pena ngalor ngidul ala HSW ini, regulator tak boleh kalah pintar. Celah yang ada harus ditutup. Bila dibiarkan, apalagi di kala layanan 4G LTE terus berkembang, bukan tidak mungkin produsen ponsel sengaja “bermain cantik”.

Seperti apakah wujud nyatanya? Mereka menonaktifkan kemampuan 4G LTE di ponsel yang bersama-sama telah mendukung layanan 4G LTE. Tujuannya, ponsel itu boleh diimpor resmi ke Indonesia tanpa terkena hukum tingkat kandungan dalam negeri (TKDN). Setelah ponsel berhasil masuk dan tersedia di pasar, tinggal mencari “pinjaman tangan” untuk mengaktifkan kembali kemampuan 4G LTE ponsel itu deh.

*** Update 1 Februari 2016 pukul 21.46:

Untuk mengetahui apakah goresan pena saya di blog Ponselmu.com hingga ke pihak terkait, hari ini saya sengaja melaksanakan survei pasar lagi. Hasilnya, dalam hitungan jam terjadi perubahan kondisi yang detailnya saya paparkan dalam poin-poin di bawah ini.

1. Sekitar pukul 13.00 saya tiba di sebuah sentra penjualan ponsel dan pribadi menuju ke salah satu daerah yang mengatakan ponsel Huawei. Sebut saja toko A. Saya menanyakan spesifikasi Huawei G8. Penjual menyatakan G8 niscaya mendukung layanan 4G LTE.

Ponsel itu dibanderol Rp 5,399 juta dan mendapat bonus kartu microSD 16 GB. Penjual berusaha melaksanakan closing, tetapi saya masih bimbang mengeluarkan dana sebesar itu demi memperoleh bukti nyata.

2. Pukul 16.23 saya menetapkan nekat membeli satu unit G8. Saya menuju toko A lagi. Penjelasan penjual telah berubah. Menurutnya, G8 yang beredar di Indonesia hanya mendukung layanan 3G. Belum bisa 4G LTE.

3. Penasaran dengan balasan yang berbeda 180 derajat dalam hitungan jam, saya berpindah ke daerah lain. Sebut saja toko B. Jawaban sama saya dapatkan: G8 belum mendukung 4G LTE.

4. Masih penasaran, saya beralih ke toko C. Di toko itu kebetulan tidak menjual G8. Yang tersedia tipe lain.

5. Selanjutnya, saya sekali lagi berpindah toko. Kali ini ke toko D. Penjual menyatakan G8 sudah mendukung layanan 4G LTE, tetapi perlu di-unlock

“Kalau saya beli kini dan meminta pribadi di-unlock alasannya yaitu memerlukan 4G LTE, apakah bisa?” tanya saya. Penjual menyatakan bisa. Saya diminta menunggu dan penjual pergi mencari seseorang. Entah siapa. Beberapa menit kemudian, penjual tiba dari arah yang berbeda. Kini ia menyatakan G8 tidak bisa di-unlock.

Menjumpai kondisi yang dirasakan tidak mengecewakan aneh, saya semakin penasaran. Ketika matahari mulai terbenam, saya meluncur ke sentra penjualan ponsel yang berbeda. Saya masuk ke toko yang memajang aneka ponsel Huawei di gerainya. Sebut saja toko X.

Saat itu di gerai tersebut ada tiga penjaga. Saya dilayani orang pertama yang lokasinya paling erat dengan pintu masuk. Orang kedua sepertinya mengenal wajah saya. Dengan bunyi pelan ia pribadi berbicara dengan orang ketiga. “Eh, kau tahu bapak itu nggak?” Kalimat selanjutnya tak sanggup saya tangkap dengan jelas. Orang ketiga kemudian melihat saya. Di toko X itu saya mendapat klarifikasi bahwa G8 kompatibel dengan 4G LTE Telkomsel. Namun, harus di-unlock dulu.

Saya kemudian berpindah ke satu toko lain. Kali ini saya mampir ke, anggaplah, toko Y. Penjual awalnya terlihat ragu apakah G8 sudah mendukung 4G LTE. “4G. Eh, G8 kayaknya belum. Bisa sih, cuma di-unlock di service center. Biar dibuka 4G-nya,” tuturnya.

Ketika saya menetapkan membeli satu unit G8 warna emas, penjual dua kali meninggalkan toko untuk memastikan undangan saya: 4G LTE harus bisa berfungsi. Saya pun menanti dengan harap-harap cemas.

Ah, kisah usang terulang lagi. G8 dibilang belum siap pakai 4G LTE alasannya yaitu harus di-unlock dulu dan hari ini belum bisa dilakukan. Penjual kemudian mengatakan Huawei Mate S yang disebutnya telah mendukung 4G LTE. Harganya Rp 9 juta. Saya kemudian pamit. Saatnya makan malam. ??

*** Update 1 Februari 2016 pukul 22.06:

Paparan saya di blog ini hingga ke regulator. Tanggapan yang saya dapatkan, menurut temuan sementara, Huawei telah melaksanakan sertifikasi dua ponsel tersebut sebelum peraturan menteri terkait TKDN ditandatangani. Terkait mengapa Huawei justru tidak mengklaim kemampuan 4G LTE, hal itu masih ditelusuri.

*** Update 2 Februari 2016:

Saat kemarin petang berinteraksi dengan penjual Huawei, saya melaksanakan perekaman suara. Ada dua rekaman yang sanggup Anda dengarkan.

Rekaman pertama berdurasi 2 menit 36 detik. Anda sanggup memutarnya di https://goo.gl/j63MJH

Sedangkan rekaman kedua berdurasi 17 menit 2 detik. Di tengah-tengah rekaman, percakapan terhenti cukup usang sebanyak dua kali. Saat itu penjual Huawei sedang meninggalkan toko, tetapi saya tidak menghentikan proses perekaman. Silakan mendengarkannya di https://goo.gl/QCX5Us

Share this:Click to share on Twitter (Opens in new window)Click to share on Facebook (Opens in new window)Click to share on WhatsApp (Opens in new window)Click to email this to a friend (Opens in new window)